" />
Pembacaan puisi "Taufiq Ismail" oleh Egi Rachmadi. Diambil dari buku kumpulan puisi "Percakapan di Beranda Angin" karya Ari KPIN. TAUFIQ ISMAIL mentari masih tersangkut di punggung gunung ketika sisa-sisa mimpi yang tak turut larut bersama luruh subuh menuntun dahaganya akan secangkir senyum hangat yang sudah sepertiga musim ini tak sering ia cecap ditemani ngungu serta irama kantuk tertunda ia ikat seluruh gundahnya pada sepatu, celana, baju, juga tas kesemuanya tampak purba sebelum beranjak pergi ia sempatkan sejenak mencuri putaran pagi sekedar menyapa bayangan tubuhnya di kaca lemari hingga sisa detik terakhir ini tak jua memberinya contekan catatan hati : “Aku bukanlah si ‘penggembala lembu di samudera’, segala lalu, kini, dan nanti, bagiku adalah entah.” selepas lewati gerbang fajar ia tualangi jejak-jejak nasib dalam labirin kehidupan membubuhkan beberapa penanda pulang dengan peluh-peluhnya yang berguguran --terkadang bening serupa embun, pernah pula coklat, tapi lebih banyak merah-- “O, Theseus Lorong mana yang dulu kau tempuh? Aku ingin mengalungkan kepala ‘manusia banteng’ itu di leherku!” 2011
|
| 973 Views |
The words you entered did not match the given text. Please try again.
Oops!
Oops, you forgot something.